TEORI DIALEKTIKA
PENGERTIAN
Dalam filsafat, dialektika mula-mula berarti metoda Tanya jawab untuk mencapai kejernihan filsafat. Metoda ini diajarkan oleh Socrates. Namun Plato mengartikannya diskusi logika. Kini dialektika berarti tahap logika, yang mengajarkan tentang kaidah-kaidah dan metoda-metoda penuturan, juga alnalisa sistematik tentang ide-ide untuk mencapai apa yang terkandung didalam pandangan. Yang dimaksd dengan pengertian terakhir ialah cara yang sistematik membentuk putusan.
Dalam pengertian sehari-hari dialektika diartikan pula kecakapan melakukan perdebatan. Dialektika dikenal juga dengan sebutan Materialisme histories. Tokoh besar dari teori ini adalah Karl Marx sehingga aliran ini disebut juga dengan marxisme.
PENJELASAN UMUM
Dialektika berbeda dengan dualisme karena dualisme membicarakan dua pikiran yang saling berlawanan dan tidak dapat dipadukan, sedangkan dialektika berbicara tentang dua pikiran yang saling berlawanan namun dapat saling direlasikan dan diproseskan. Hegel mengemukakan dialektika dapat dimengerti seperti tesis, antitesis dan sintesis. Misalnya terdapat sebuah pemikiran A (tesis) maka pasti terdapat pemikiran kontra A (antitesis). Untuk menyelesaikan kedua pemikiran tersebut maka dibuatlah pemikiran baru di antara keduanya, sebut saja pemikiran B (sintesis). Selanjutnya, dengan adanya pemikiran B (tesis) pasti terdapat pula pemikiran kontra B (antitesis) yang akan menghasilkan pemikiran baru lagi (sintesis) dan seterusnya. Melalui gambaran ini kita dapat melihat bahwa pemikiran dialektika selalu bersifat bergerak terus-menerus atau berproses. Kalau kita melihat ke dalam sejarah, perkembangan akan pemikiran dialektika dapat dibagi menjadi beberapa bagian.
Yang pertama adalah Dialektika Metafisis. Pemikiran ini pertama kali diungkapkan di dalam cerita mengenai Socrates dan Eutyphiro yang ditulis oleh Plato. Ide mengenai dialektika muncul pertama kali karena sejak awal manusia memiliki pengertian bahwa baik di dalam dunia fisik maupun metafisika terdapat dua kekuatan besar yang saling berlawanan. Orang timur menggambarkan kondisi demikian seperti yin dan yang, di mana-mana pasti terdapat baik dan jahat, putih dan hitam, dst. Kekristenan menolak ide seperti ini karena walaupun kita mengakui terdapat dua kekuatan besar yang saling berlawanan tetapi keduanya tidak setara atau sama besar. Dunia inipun tidak dimulai dengan dua kekuatan melainkan satu kekuatan.
Yang kedua adalah pemikiran yang dicetuskan oleh Hegel, yaitu: Dialektika Idealis. Hegel mengatakan bahwa setiap manusia pasti berdiri dengan berdasarkan satu konsep yang dipegangnya sebagai tesis dasar. Namun Hegel juga menemukan bahwa ketika tiap manusia memegang sebuah tesis ternyata kebanyakan dari sesamanya cenderung untuk melawan tesis tersebut dan mereka membuat antitesis-nya. Contohnya, ketika seseorang mengatakan A adalah benar maka orang lain selalu cenderung untuk melawan dan mengatakan kontra A adalah benar. Walaupun ini adalah jiwa berdosa namun bagi Hegel justru di sinilah kepentingannya karena ketika semua orang setuju A adalah benar maka Hegel mengatakan dunia ini akan berhenti dan menjadi statis. Jadi menurut Hegel proses itu dapat terus berjalan karena adanya A dan kontra A yang nantinya akan menimbulkan B dan kemudian kontra B dan seterusnya. Padahal sesungguhnya tidaklah demikian, setuju akan satu hal, ide atau kebenaran tidak membuat kita semua menjadi berhenti berproses.
Yang ketiga adalah pemikiran yang dikembangkan oleh Karl Marx, yaitu: Dialektika Materialisme. Bagi Marx apa yang dikemukakan oleh Hegel terlalu idealis, pada waktu itu perdebatan antar teori, agama dan doktrin khususnya di dalam Kekristenan sangat menjengkelkan bagi Marx dan Engels karena realitas sehari-hari hanya memperlihatkan kesusahan. Dia berpikir buat apa tesis, antitesis dan segala macam ide yang akhirnya tidak membuat kehidupan menjadi lebih baik. Dari sinilah kemudian Marx menarik dialektik dari idealisme menuju kepada materialisme dan sempat sukses besar selama beberapa masa, bahkan menjadi bahan perdebatan yang paling sengit di akhir abad ke-20, yaitu antara kapitalisme dan sosialisme. Marx melihat di dalam realitas ternyata kaum kapitalis yang memiliki modal banyak selalu menginjak-injak kaum bertenaga dengan uang/modal yang dimilikinya. Bagi banyak orang dialektika materialisme pernah dielu-elukan menjadi jalan keluar untuk menuju kehidupan yang lebih baik, yaitu: bagaimana memproses antara kekuatan uang dan tenaga secara dialektis untuk mencari suatu keseimbangan sehingga membawa proses tersebut berkembang terus-menerus mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan. Teori Marx begitu hebat namun praktek di dalam sejarah ternyata hancur semuanya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar