PERBEDAAN KONSEP IDEALISME DIALEKTIKA HEGEL DAN MATERIALISME DIALEKTIK KARL MARX SEBAGAI KONSEP FILSAFAT SEJARAH
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebelum akhir abad ke-18, empirisme sebagai teori pengetahuan dan indvidualisme sebagai teori politik memperoleh pengakuan luas. Empirisme lahir sebagai protes menentang rasionalisme Pencerahan; individualisme hanyalah kelanjutan semata dari kecenderungan atomistik yang muncul bersamaan dengan Renaisans dan Reformasi. Hume adalah simbol dari empirisme baru dengan kritiknya terhadap hukum alam serta pendiriannya bahwa tidak ada pengetahuan yang pasti mengenai sesuatu kecuali yang bisa diamati. Locke dan Bentham adalah tokoh individualis sosial yang menolak karakter organis negara dan berusaha menjelaskan kewajiban politik dengan menunjukkan bahwa kepatuhan kepada pemerintah adalah demi kepentingan pribadi seseorang.
Baik empirisme maupun individualisme tidak lepas dari tantangan. Kedua aliran ini menyulut serang baik yang kuat, yang paling keras berasal dari ‘kaum idealis’ Jerman. Fokus filsafat politik dan sosial selama abad ke-17 ada di Inggris dan selama seratus tahun berikutnya di Perancis, tetapi abad ke-19 adalah milik Jerman. Benturan pemikiran politik yang terjadi di Jerman sebagian disebabkan karena transformasi Jerman yang sudah lama tertunda dari feodalisme menuju negara nasional moderen. Ketika karakter politik dan sosial bangsa berubah, kebutuhan akan artikulasi teoritis dari peristiwa-peristiwa baru menjadi semakin mendesak. Periode antara pecahnya Revolusi Perancis dan pertengahan abad berikutnya terbukti menjadi tahun-tahun produktif dalam pemikirnya berusaha mendefinisikam kembali hubungan antara negara dan individu. Idealisme dialektik Hegel dan materialisme dialektik Marx adalah produk dari era ini.
Perhatian Hegel pada teori politik tidak sebesar dibandingkan dengan perhatiannya pada penafsiran metafisikanya terhadap tatanan universal.
“Karena kebenaran adalah kesatuan dari kehendak universal dan subjektif; dan yang universal harus ditemukan dalam negara, dalam hukum-hukumnya, dalam bentuknya yang universal dan rasional. Negara adalah Roh Tuhan yang ada di atas Bumi” (Hegel, Philosophy of History)
Filsafatnya sulit dipahami dan dirangkum. Bertrand Russell berkata bahwa diantara pemikir-pemikir besar, filsafat Hegel merupakan filsafat yang paling sulit untuk dipahami. Namun pengetahuan akan beberapa premis dasarnya sangat penting bagi analisis pemikiran politik barat ke-19 dan ke-20. Sekalipun jika Hegel tidak melakukan hal lain kecuali membangun kerangka metafisik bagi pemikiran Marxis, upayanya ini saja sudah cukup menempatkannya dalam jajaran pemikir dunia yang berpengaruh.
Revolusi Indutri menyulitkan jalannya pemerintahan. Banyaknya orang yang tinggal di wilayah urban yang luas, konsentrasi modal, meluasnya pasar ke seluruh duni, danmeningkatnya jumlah penerima gaji mengubah hubungan politik, sosial, dan ekonomi. Dengan perubahan cepat yang terjadi dalam cara produksi dan distribusi, serta dampaknya pada masyarakat, kebutuhan akan perumusan kembali teori sosial dan politik menjadi mendesak. Hegel melihat kelemahan besar dalam pendekatan ini, tetapi karya-karya metafisikanya sendiri yang rumit tidak banyak menawarkan pada dunia yang digerakan oleh pertumbuhan industri. Upaya pertama yang terutama diarahkan untuk mendefiniskan kembali teori politik dalam sinaran proses baru ekonomi dilakukan oleh kaum sosialis.
Meskipun berbagai teori dan pengalaman sejarah tidak begitu penting, ia menjadi transisi bagi bentuk-bentuk sosialisme moderen. Semuanya merupakan serangan terhadap sistem kapitalistik yang ada, dan mengemukakan cara hidup yang didasarkan pada bentuk kontrok kolektif. Namun demikian, solusi yang ditawarkan sangat jauh dari realitas, terlalu utopis dan romatis, sehingga tidak bisa menjadi tolok ukur keberhasilan. Gerakan reformasi sosial yang mereka tawarkan pada umumnya tumbang ketika keuntungan praktis bagi para pekerja tidak bisa terpenuhi dengan segera. Ketika sosialisme utopian menyebar inilah Karl Marx menawarkan doktrin sosialisme ‘ilmiah’ pada dunia.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan-tujuan yang ingin dicapai dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut.
Permasalah yang diangkat pada makalah ini adalah perbedaan yang signifikan terhadap dua pemikir besar pada abad ke-19 yakni dialektik Hegel yang idealis serta dialektik Marx yang materialis. Kedua pemikir besar tersebut sama-sama menyumbangkan konsep politik baratnya yang signifikan pada dunia, sehingga mereka patut menjadi tolok ukur dasar pemikiran politik barat.
BAB II
PEMBAHASAN
Fokus filsafat politik dan sosial selama abad ke-17 ada di Inggris dan selama seratus tahun berikutnya di Perancis, tetapi pada abad ke-19 keduanya dikuasai oleh Jerman. Benturan pemikiran politik yang terjadi di Jerman sebagian disebabkan karena transformasi Jerman yang sudah lama tertunda dari feodalisme menuju negara nasional moderen. Periode antara pecahnya Revolusi Perancis dan pertengahan abad berikutnya terbukti menjadi tahun-tahun produktif dalam pemikiran politik Jerman, ketika para pemikirnya berusaha mendefinisikan kembali hubungan antara negara dan individu. Idealisme dialektik Hegel dan materialisme dialektik Marx merupakan produk dari era ini. Abad ke-19 adalah abad ketika filsafat sejarah metafisika yang plaing kaya warna mampu berkembang sepenuhnya dan membawa seluruh hasil yang dipetik teori-teori besar tentang hakikat perkembangan sejarah dan nasib manusia. Selain itu, di abad ini filsafat menjadi sesuatu yang marak, ekspplosif, dan revolusioner dalam pemikiran formal sejak terjadi benturan antara rasionalisme dan kristianitas tradisional (Untari 2012, 1).
Idealisme Dialektika Hegel
Sebagai pembahasan awal, George Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831) dilahirkan di Stuttgart, Jerman. Dapat dikatakan oleh Untari (2012), bahwa dialah (Hegel) yang pertama kali memperkenalkan gagasan dalam filsafat, bahwa sejarah dan hal yang konkret adalah penting untuk bisa keluar dari lingkaran philosophia perennis, yakni masalah-masalah abadi dalam filsafat. Di masa kecilnya, ia suka membaca literatur, surat kabar, esai filsafat, dan tukkisan-tulisan tentang berbagai topik lainnya. Hegel dikenal sebagai filsuf yang menggunakan dialektika sebagai metode berfilsafat. Dialektika menurut Hegel adalah dua hal yang dipertentangkan lalu didamaikan, atau biasa dikenal dengan tesis (pengiyaan/ide), antitesis (pengingkaran/alam), dan sintesis (kesatuan kontradiksi/roh). Perhatian Hegel pada teori politik tidak besar dibandingkan dengan perhatiannya pada penafsiran metafisikanya terhadap tatanan uuniversal. Filsafatnya sulit dipahami maupun dirangkum, dimana seorang Bertrand Russell berkata bahwa diantara pemikir-pemikir besar, filsafat Hegel paling sulit untuk dipahami (Schmandt 2002, 488). Konsistensinya dalam melakukan telaah pemikiran atas ‘ide’ (tesis) menjadi sebuah kondisi yang menarik untuk dikaji serta menjadi sebuah tambahan ilmu bagi diri pribadi. Dialektika Hegel menjadi sebuah pisau analisis dalam menelaah sejarah secara lebih mendalam serta ilmu pengetahuan secara global. Dialektikanya seolah suatu metode yang mampu memecahkan problem realitas kehidupan. Akan adanya dialektika Hegel ini yang kemudian tanpa disadari menjadi inspirasi Karl Marx dalam menetapkan teori materialis di dalam tubuh sosialismenya.
Hegel mengakui dirinya cenderung befikir bebas selayaknya filsuf dalam memaknai kehidupan dan pemikiran atau rasio. Namun Hegel memandang justru kebebasan merupakan wujud pengakuan dan penerimaan sadar manusia atas suatu sistem nilai dalam hidup,seperti nilai yang terkandung dalam ajaran agama (kristen). Pemikiran Hegel yang senantiasa berdialektika terhadap realitas dan memandang adanya ‘realitas mutlak’ atau ‘roh mutlak’ dalam kehidupan sangat mempengaruhi dalam memandangs ejarah secara global. Dunia menurut Hegel selalu berada dalam proses perkembangan yang bersifat dialektik, artinya perubahan-perubahan itu berlangsung dengan melalui tahapan tesis, antitesis, dan akhirnya sampai kepada sintesis (Titus et al. 1984, 302). Dialektika Hegel menjadikan ‘akhir’ sesuatu menjadi ‘awal’ kembali, seperti sebuah siklus. Tiga prinsip utamanya, tesis-antitesis (terjadi 2 tahap perubahan yakni kualitatif dan kuantitatif), serta sintesis. Setiap kejadian atau ide (tesis) cenderung menimbulkan kejadian atau ide yang berlawanan atau bertentangan (antitesis). Dalam pertentangan yang terjadi antara dua hal ini, muncul lah perkembangan baru (sintesis). Sisntesis ini berbeda dengan kontradiksi yang ada sebelumnya, tetapi bukan merupakan penggabungan, melainkan mengandung elemen penting baik dalam tesis maupun antitesis dan menjelma menjadi entitas yang lebih kaya dan lebih komprehensif (Schmandt 2002, 491).
Filsafat Hegel sering disebut sebagai puncak idealisme Jerman. Ketertarikan Hegel pada metafisika meyakinkannya bahwa ada ketidakjelasan bagian dunia, yang mana menurut Bertrand Russell pemikiran Hegel kemudian merupakan intelektualisasi dari wawasan metafisika. Hegel meletakkan ‘roh’ sebagai realitas utama dalam memahami sejarah, yang mana merupakan tahapan sementara dari yang absolut dalam perjalanannya menuju penyempurnaan (Schamndt 2002, 491). Menurut Hegel, alam adalah keseluruhan yang bersifat koheren, manifestasi eksternal dari rasio absolut atau Tuhan yang secara progresif terungkap dalam ruang dan waktu. Yang absolut adalah roh. Roh ini terus menyelimuti meskipun ia sepenuhnya bersifat spiritual. Ia mencakup dunia materi dans emua kumpulan pengalaman manusia. Singkatnya menurut Schamndt (2002), idealisme dialektika Hegl ini mengidahkan dunia sebagai ekspresi dari pemikiran akan yanga bsolut. Akal dan tindakan adalah bagian atau fase dari Tuhan, yang merupakan tahapan dalam perkembangan dari roh. Hegel meneruskan bahwa keseluruhan itu bersifat mutlak dan yang mutalk itu bersifat spritual yang lambat launmenjadi sadar akan dirinya sendiri. Hegel memberikan contoh ‘yang mutlak adalah yang berada murni (pure being)’ yang tidak memiliki kualitas apapun. Namun yang beradamurni tanpa kualitas apapun adalah ‘yang tiada (nothing)’ ini merupakan regrasi dari proposi atau tesis, oleh sebab itu diarahkan pada antitesis ‘yang mutlak adalah yang tiada’. Penyatuan antara tesis dan antitesis tersebut menjadi sintesis yaitu apa yang disebut menjadi (becoming) maka ‘yang mutlak adalah yang mejadi’, sintesis inilah kebenaran yang lebih tinggi. Sebagaimana diketahui Hegel, ia mengkonstartirkan pemahaman bahwa alam tidak lain hasil roh (absolut), sehingga dialektika yang muncul adalah dialktika ide. Secara langsung dialektika Hegel hanya terjadi dan dapat diterapkan dalam dunia abstrak, yaitu ide atau pemikiran manusia itu sendiri (Santoso & Santoso 2003, 43). Sejarah baginya merupakan gerak kearah rasionalitas dan kebebasan yang semakin besar. Kendati demikian, Hegel paham bahwa sejarah memang merupakan meja pembataian dimana kesengsaraan, kematian, ketidakadilan, dan kejahatan menjadi bagian dari panggung dunia. Namun sejarah baginya merupakan teodisi atau usaha untuk membenarkan Tuhan dan mensucikan Tuhan yang telah membiarkan kejahatan berkuasa di dunia.
Materialisme Dialektik Karl Marx
Karl Marx (1818-1883) yang lahir di Treves-Jerman ini memiliki konseptualisasi dialektika yang merespon dialektika Hegel yang mendahuluinya. Secara garis besar pemikiran Marx dipengaruhi oleh pemikiran Hegel, hanya saja pemikiran Hegel tersebut dijadikan Marx sebagai antitesa dari dialektikanya. Prinsip dialektika Hegel dan kaum idealis ini ditolak oleh Marx. Bagi Marx, segala sesuatu yang bersifat rohani merupakan hasil materi, sehingga dialektika yang dia kembangkan adalah dialektika materi. Bahwa dialektika terjadinya di dunia nyata bukan di dunia materi sebagaimana yang dikonstratir Hegel. Karena itulah, filsafat Karl Marx disebut dengan ‘materialisme dialektik’ (Bertens 1979, 80). Proses dialektika adalah suatu contoh yang ada di dalam dunia. Dialektika adalah suatu fakta empiris, manusia mengetahuinya dari penyelidikan tentang alam, dikuatkan oleh pengetahuan lebih lanjut tentang hubungan sebab musabab yang dibawahkan oleh ahli sejarah dan sains (Santoso & Santoso 2003, 43).
Hegel lebih menempatkan posisi Ide-Pikiran sebagai yang utama, tetapi berbeda dengan Karl Marx yang mengemukakan, “metode dialektika saya sendiri bukan saja berbeda dari metode dialek-tika Hegel, tetapi lawan langsung darinya. Bagi Hegel, proses berpikir itu adalah pencipta dari dunia nyata, dan dunia nyata hanya manifestasi lahir dari “ide”. Bagi saya sebaliknya dari itu, yang berupa dalam cita (the ideal) tidak lain dari dunia nyata (material world) yang direfleksikan oleh pikiran manusia dan dipindahkan menjadi buah pikiran” (Syam 2010, 169-170).
Dalam satu suratnya Marx mengemukakan bahwa dialektika Hegel adalah dasar dari segala dialektika, terjadi apabila ia telah dibersihkan dari bentuk mistiknya, dan proses inilah yang membedakannya dari metode Marx (Syam 2010, 170). Materi adalah hal utama bagi Marx, sebab manusia itu dapat berpikir karena manusia itu hidup, dan hidup adalah masalah perut. Penjelasan konsep materialisme dialektis Marx ini pada akhirnya membawa pengaruh pada bangunan sistem pengetahuan yang dibentuk pada prinsip tersebut. Sebelumnya Hegel menyatakan bahwa ide absolut Tuhan lah yang berkembang dalam sejarah dan mengungkapkan dirinya dalam alam dan manusia, ketika ide ini berkembang dalam dan melalui dunia ruang dan waktu. Feurbach yakni salah satu tokoh filsuf yang mempengaruhi pemikiran marx mengatakan, bahwa yang absolut saeperti yang dikatakan Hegel bukanlah Tuhan, malainkan alam. Marx mengambil tesis Feurbach ini untuk merasionalisasikan kritiknya terhadap agama dan melakukan transisi dari idealisme Hegel menuju materialisme. Dengan menyatakan bahwa, yang absolut sebenarnya tidak lebih dari sekedar refleksi materi, Marx menggunakan dialektika sebagai kekuatan yang menggerakkan dalam evolusi sejarah (Schmandt 2002, 515).
Dapat dikatakan pula, materialisme sejarah atau materialisme dialektik yang dimaksud oleh Marx ini berarti cara produksi kebutuhan hidup pada akhirnya menentukan ide-ide dan institusi-institusi sosial pada masa itu. Penegasan dialektika ini menurut Marx dalam Syam (2010), “bukanlah kesadaran yang menentukan keberadaannya, melainkan keberadaan sosial lah yang menentukan keberadaannya”. Konsep Marx tentang sejarah bermula dari prinsip bahwa produksi adalah dasar dari setiap tatanan sosial dan bahwa pembagian masyarakat ke dalam kelas-kelas ditentukan oleh apa yang dihasilkan dan bagaimana ia dihasilkan. Jadi, penggilingan dengan tangan memberi kita gambaran masyrakat feodal, dan penggilingan dengan mesin uap menunjukkan masyarakat kapitalis industrial (Schmandt 2002, 517).
Pada dasarnya materialisme dialektik Karl Marx, mrupakan empat premis yang dikemukakan oleh Luer dalam Syam (2010), yakni (1) perubahan sejarah pertama kali atas adanya perubahan cara berproduksi ekonomi masyarakat, (2) masyarakat terdiri dari lapisan basis dan suprastruktur, (3) perubahan sejarah karena adanya antagonisme yakni kontradiksi kelas sosial (borjuis-proletar), (4) masyarakat kapitalis pada akhirnya selalu meniimbulkan konflik internal. Oleh karena itu, Marx mengatakanbahwa sejarah seluruh masyarakat yang ada tidak lain adalah sejarag perjuangan kelas, yakni manifestasi akan dialektik Marx “keadaan sosial lah yang menentukan keberadaan manusia”.
Apa yang dimaksud oleh Marx disini pada intinya adalah, keberadaan latar belakang politik semasa kehisupan Marx yang pada waktu itu kaum borjuis mendominasi kaum proletar, mereka menggunakan segala cara (negara, agama, politik, dll) sebagai alat kaum borjuis untuk mengeksploitasi tenaga kaum proletar secara radikal, yang mana kemudian berkaitan dengan alienasi antar kelas sosial. Tidak hanya itu, dialektika Marx ini digunakan olehnya sebagai solusi bagi kaum proletar untuk mewujudkan masyarakat tanpa kelas sebagai bentuk humanisme yang secara kodrati merupakan naturalisme. Dapat disimpulkan dari pemikiran Marx, yakni fenomena sejarah dengan kata lain ditentukan oleh faktor-faktor eknomi. Kemudian kebudayaan, filsafat, politik, dan bahkan agama, dalam setiap jaman, dibentuk oleh metode produksinya.
BAB III
KESIMPULAN
Hegel menolak konsep hukum alam dan mengajukan kehendak universal seperti yang terwujud dalam institusi sosial dan politik negara. Menurut Hegel, manusia mempunya karakter moral dalam tindakannya ketika ia menjalankan kebiasaan dan hukum masayrakat dimana ia tinggal, karena tatanan kehidupan sosial dan sistem negara didasarkan pada basis yang pada dasarnya bersifat ‘rasional’. Dengan kata lain, ‘dunia riil adalah seperti apa yang ada’. Apa pun yang eksis pastilah benar.
Marxisme menolak penuh terhadap adanya hukum alam. Ia menganggap tindakan moral sebagai tindakan yangs ejalan dengan tujuan orde sosial, yakni tujuan yang ditentukan oleh manusia sendiri. Karena bagu kaum Marxis, norma etika tidak membimbing dan membentuk masyrakat; sebaliknya, tindakan bersifat moral jika sesuai dengan masyarakat manusia. Etika tidak membentuk dunia, tetapi dunia membentuk etikanya sendiri. Kebenaran dan moralitas mempunyai makna hanya jika keduanya berguna bagi pembangunan masyarakt sosialis. Oleh karena itu, etika komunis menjadi etika partai yang mempunyai tugas membangun sosialisme
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebelum akhir abad ke-18, empirisme sebagai teori pengetahuan dan indvidualisme sebagai teori politik memperoleh pengakuan luas. Empirisme lahir sebagai protes menentang rasionalisme Pencerahan; individualisme hanyalah kelanjutan semata dari kecenderungan atomistik yang muncul bersamaan dengan Renaisans dan Reformasi. Hume adalah simbol dari empirisme baru dengan kritiknya terhadap hukum alam serta pendiriannya bahwa tidak ada pengetahuan yang pasti mengenai sesuatu kecuali yang bisa diamati. Locke dan Bentham adalah tokoh individualis sosial yang menolak karakter organis negara dan berusaha menjelaskan kewajiban politik dengan menunjukkan bahwa kepatuhan kepada pemerintah adalah demi kepentingan pribadi seseorang.
Baik empirisme maupun individualisme tidak lepas dari tantangan. Kedua aliran ini menyulut serang baik yang kuat, yang paling keras berasal dari ‘kaum idealis’ Jerman. Fokus filsafat politik dan sosial selama abad ke-17 ada di Inggris dan selama seratus tahun berikutnya di Perancis, tetapi abad ke-19 adalah milik Jerman. Benturan pemikiran politik yang terjadi di Jerman sebagian disebabkan karena transformasi Jerman yang sudah lama tertunda dari feodalisme menuju negara nasional moderen. Ketika karakter politik dan sosial bangsa berubah, kebutuhan akan artikulasi teoritis dari peristiwa-peristiwa baru menjadi semakin mendesak. Periode antara pecahnya Revolusi Perancis dan pertengahan abad berikutnya terbukti menjadi tahun-tahun produktif dalam pemikirnya berusaha mendefinisikam kembali hubungan antara negara dan individu. Idealisme dialektik Hegel dan materialisme dialektik Marx adalah produk dari era ini.
Perhatian Hegel pada teori politik tidak sebesar dibandingkan dengan perhatiannya pada penafsiran metafisikanya terhadap tatanan universal.
“Karena kebenaran adalah kesatuan dari kehendak universal dan subjektif; dan yang universal harus ditemukan dalam negara, dalam hukum-hukumnya, dalam bentuknya yang universal dan rasional. Negara adalah Roh Tuhan yang ada di atas Bumi” (Hegel, Philosophy of History)
Filsafatnya sulit dipahami dan dirangkum. Bertrand Russell berkata bahwa diantara pemikir-pemikir besar, filsafat Hegel merupakan filsafat yang paling sulit untuk dipahami. Namun pengetahuan akan beberapa premis dasarnya sangat penting bagi analisis pemikiran politik barat ke-19 dan ke-20. Sekalipun jika Hegel tidak melakukan hal lain kecuali membangun kerangka metafisik bagi pemikiran Marxis, upayanya ini saja sudah cukup menempatkannya dalam jajaran pemikir dunia yang berpengaruh.
Revolusi Indutri menyulitkan jalannya pemerintahan. Banyaknya orang yang tinggal di wilayah urban yang luas, konsentrasi modal, meluasnya pasar ke seluruh duni, danmeningkatnya jumlah penerima gaji mengubah hubungan politik, sosial, dan ekonomi. Dengan perubahan cepat yang terjadi dalam cara produksi dan distribusi, serta dampaknya pada masyarakat, kebutuhan akan perumusan kembali teori sosial dan politik menjadi mendesak. Hegel melihat kelemahan besar dalam pendekatan ini, tetapi karya-karya metafisikanya sendiri yang rumit tidak banyak menawarkan pada dunia yang digerakan oleh pertumbuhan industri. Upaya pertama yang terutama diarahkan untuk mendefiniskan kembali teori politik dalam sinaran proses baru ekonomi dilakukan oleh kaum sosialis.
Meskipun berbagai teori dan pengalaman sejarah tidak begitu penting, ia menjadi transisi bagi bentuk-bentuk sosialisme moderen. Semuanya merupakan serangan terhadap sistem kapitalistik yang ada, dan mengemukakan cara hidup yang didasarkan pada bentuk kontrok kolektif. Namun demikian, solusi yang ditawarkan sangat jauh dari realitas, terlalu utopis dan romatis, sehingga tidak bisa menjadi tolok ukur keberhasilan. Gerakan reformasi sosial yang mereka tawarkan pada umumnya tumbang ketika keuntungan praktis bagi para pekerja tidak bisa terpenuhi dengan segera. Ketika sosialisme utopian menyebar inilah Karl Marx menawarkan doktrin sosialisme ‘ilmiah’ pada dunia.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan-tujuan yang ingin dicapai dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut.
- Memenuhi tugas yang diberikan pada mata kuliah Politik Pemikiran Barat-Universitas Airlangga.
- Sebagai bentuk pendalaman materi dialektik dua pemikir besar pada abad ke-19 di Jerman.
Permasalah yang diangkat pada makalah ini adalah perbedaan yang signifikan terhadap dua pemikir besar pada abad ke-19 yakni dialektik Hegel yang idealis serta dialektik Marx yang materialis. Kedua pemikir besar tersebut sama-sama menyumbangkan konsep politik baratnya yang signifikan pada dunia, sehingga mereka patut menjadi tolok ukur dasar pemikiran politik barat.
BAB II
PEMBAHASAN
Fokus filsafat politik dan sosial selama abad ke-17 ada di Inggris dan selama seratus tahun berikutnya di Perancis, tetapi pada abad ke-19 keduanya dikuasai oleh Jerman. Benturan pemikiran politik yang terjadi di Jerman sebagian disebabkan karena transformasi Jerman yang sudah lama tertunda dari feodalisme menuju negara nasional moderen. Periode antara pecahnya Revolusi Perancis dan pertengahan abad berikutnya terbukti menjadi tahun-tahun produktif dalam pemikiran politik Jerman, ketika para pemikirnya berusaha mendefinisikan kembali hubungan antara negara dan individu. Idealisme dialektik Hegel dan materialisme dialektik Marx merupakan produk dari era ini. Abad ke-19 adalah abad ketika filsafat sejarah metafisika yang plaing kaya warna mampu berkembang sepenuhnya dan membawa seluruh hasil yang dipetik teori-teori besar tentang hakikat perkembangan sejarah dan nasib manusia. Selain itu, di abad ini filsafat menjadi sesuatu yang marak, ekspplosif, dan revolusioner dalam pemikiran formal sejak terjadi benturan antara rasionalisme dan kristianitas tradisional (Untari 2012, 1).
Idealisme Dialektika Hegel
Sebagai pembahasan awal, George Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831) dilahirkan di Stuttgart, Jerman. Dapat dikatakan oleh Untari (2012), bahwa dialah (Hegel) yang pertama kali memperkenalkan gagasan dalam filsafat, bahwa sejarah dan hal yang konkret adalah penting untuk bisa keluar dari lingkaran philosophia perennis, yakni masalah-masalah abadi dalam filsafat. Di masa kecilnya, ia suka membaca literatur, surat kabar, esai filsafat, dan tukkisan-tulisan tentang berbagai topik lainnya. Hegel dikenal sebagai filsuf yang menggunakan dialektika sebagai metode berfilsafat. Dialektika menurut Hegel adalah dua hal yang dipertentangkan lalu didamaikan, atau biasa dikenal dengan tesis (pengiyaan/ide), antitesis (pengingkaran/alam), dan sintesis (kesatuan kontradiksi/roh). Perhatian Hegel pada teori politik tidak besar dibandingkan dengan perhatiannya pada penafsiran metafisikanya terhadap tatanan uuniversal. Filsafatnya sulit dipahami maupun dirangkum, dimana seorang Bertrand Russell berkata bahwa diantara pemikir-pemikir besar, filsafat Hegel paling sulit untuk dipahami (Schmandt 2002, 488). Konsistensinya dalam melakukan telaah pemikiran atas ‘ide’ (tesis) menjadi sebuah kondisi yang menarik untuk dikaji serta menjadi sebuah tambahan ilmu bagi diri pribadi. Dialektika Hegel menjadi sebuah pisau analisis dalam menelaah sejarah secara lebih mendalam serta ilmu pengetahuan secara global. Dialektikanya seolah suatu metode yang mampu memecahkan problem realitas kehidupan. Akan adanya dialektika Hegel ini yang kemudian tanpa disadari menjadi inspirasi Karl Marx dalam menetapkan teori materialis di dalam tubuh sosialismenya.
Hegel mengakui dirinya cenderung befikir bebas selayaknya filsuf dalam memaknai kehidupan dan pemikiran atau rasio. Namun Hegel memandang justru kebebasan merupakan wujud pengakuan dan penerimaan sadar manusia atas suatu sistem nilai dalam hidup,seperti nilai yang terkandung dalam ajaran agama (kristen). Pemikiran Hegel yang senantiasa berdialektika terhadap realitas dan memandang adanya ‘realitas mutlak’ atau ‘roh mutlak’ dalam kehidupan sangat mempengaruhi dalam memandangs ejarah secara global. Dunia menurut Hegel selalu berada dalam proses perkembangan yang bersifat dialektik, artinya perubahan-perubahan itu berlangsung dengan melalui tahapan tesis, antitesis, dan akhirnya sampai kepada sintesis (Titus et al. 1984, 302). Dialektika Hegel menjadikan ‘akhir’ sesuatu menjadi ‘awal’ kembali, seperti sebuah siklus. Tiga prinsip utamanya, tesis-antitesis (terjadi 2 tahap perubahan yakni kualitatif dan kuantitatif), serta sintesis. Setiap kejadian atau ide (tesis) cenderung menimbulkan kejadian atau ide yang berlawanan atau bertentangan (antitesis). Dalam pertentangan yang terjadi antara dua hal ini, muncul lah perkembangan baru (sintesis). Sisntesis ini berbeda dengan kontradiksi yang ada sebelumnya, tetapi bukan merupakan penggabungan, melainkan mengandung elemen penting baik dalam tesis maupun antitesis dan menjelma menjadi entitas yang lebih kaya dan lebih komprehensif (Schmandt 2002, 491).
Filsafat Hegel sering disebut sebagai puncak idealisme Jerman. Ketertarikan Hegel pada metafisika meyakinkannya bahwa ada ketidakjelasan bagian dunia, yang mana menurut Bertrand Russell pemikiran Hegel kemudian merupakan intelektualisasi dari wawasan metafisika. Hegel meletakkan ‘roh’ sebagai realitas utama dalam memahami sejarah, yang mana merupakan tahapan sementara dari yang absolut dalam perjalanannya menuju penyempurnaan (Schamndt 2002, 491). Menurut Hegel, alam adalah keseluruhan yang bersifat koheren, manifestasi eksternal dari rasio absolut atau Tuhan yang secara progresif terungkap dalam ruang dan waktu. Yang absolut adalah roh. Roh ini terus menyelimuti meskipun ia sepenuhnya bersifat spiritual. Ia mencakup dunia materi dans emua kumpulan pengalaman manusia. Singkatnya menurut Schamndt (2002), idealisme dialektika Hegl ini mengidahkan dunia sebagai ekspresi dari pemikiran akan yanga bsolut. Akal dan tindakan adalah bagian atau fase dari Tuhan, yang merupakan tahapan dalam perkembangan dari roh. Hegel meneruskan bahwa keseluruhan itu bersifat mutlak dan yang mutalk itu bersifat spritual yang lambat launmenjadi sadar akan dirinya sendiri. Hegel memberikan contoh ‘yang mutlak adalah yang berada murni (pure being)’ yang tidak memiliki kualitas apapun. Namun yang beradamurni tanpa kualitas apapun adalah ‘yang tiada (nothing)’ ini merupakan regrasi dari proposi atau tesis, oleh sebab itu diarahkan pada antitesis ‘yang mutlak adalah yang tiada’. Penyatuan antara tesis dan antitesis tersebut menjadi sintesis yaitu apa yang disebut menjadi (becoming) maka ‘yang mutlak adalah yang mejadi’, sintesis inilah kebenaran yang lebih tinggi. Sebagaimana diketahui Hegel, ia mengkonstartirkan pemahaman bahwa alam tidak lain hasil roh (absolut), sehingga dialektika yang muncul adalah dialktika ide. Secara langsung dialektika Hegel hanya terjadi dan dapat diterapkan dalam dunia abstrak, yaitu ide atau pemikiran manusia itu sendiri (Santoso & Santoso 2003, 43). Sejarah baginya merupakan gerak kearah rasionalitas dan kebebasan yang semakin besar. Kendati demikian, Hegel paham bahwa sejarah memang merupakan meja pembataian dimana kesengsaraan, kematian, ketidakadilan, dan kejahatan menjadi bagian dari panggung dunia. Namun sejarah baginya merupakan teodisi atau usaha untuk membenarkan Tuhan dan mensucikan Tuhan yang telah membiarkan kejahatan berkuasa di dunia.
Materialisme Dialektik Karl Marx
Karl Marx (1818-1883) yang lahir di Treves-Jerman ini memiliki konseptualisasi dialektika yang merespon dialektika Hegel yang mendahuluinya. Secara garis besar pemikiran Marx dipengaruhi oleh pemikiran Hegel, hanya saja pemikiran Hegel tersebut dijadikan Marx sebagai antitesa dari dialektikanya. Prinsip dialektika Hegel dan kaum idealis ini ditolak oleh Marx. Bagi Marx, segala sesuatu yang bersifat rohani merupakan hasil materi, sehingga dialektika yang dia kembangkan adalah dialektika materi. Bahwa dialektika terjadinya di dunia nyata bukan di dunia materi sebagaimana yang dikonstratir Hegel. Karena itulah, filsafat Karl Marx disebut dengan ‘materialisme dialektik’ (Bertens 1979, 80). Proses dialektika adalah suatu contoh yang ada di dalam dunia. Dialektika adalah suatu fakta empiris, manusia mengetahuinya dari penyelidikan tentang alam, dikuatkan oleh pengetahuan lebih lanjut tentang hubungan sebab musabab yang dibawahkan oleh ahli sejarah dan sains (Santoso & Santoso 2003, 43).
Hegel lebih menempatkan posisi Ide-Pikiran sebagai yang utama, tetapi berbeda dengan Karl Marx yang mengemukakan, “metode dialektika saya sendiri bukan saja berbeda dari metode dialek-tika Hegel, tetapi lawan langsung darinya. Bagi Hegel, proses berpikir itu adalah pencipta dari dunia nyata, dan dunia nyata hanya manifestasi lahir dari “ide”. Bagi saya sebaliknya dari itu, yang berupa dalam cita (the ideal) tidak lain dari dunia nyata (material world) yang direfleksikan oleh pikiran manusia dan dipindahkan menjadi buah pikiran” (Syam 2010, 169-170).
Dalam satu suratnya Marx mengemukakan bahwa dialektika Hegel adalah dasar dari segala dialektika, terjadi apabila ia telah dibersihkan dari bentuk mistiknya, dan proses inilah yang membedakannya dari metode Marx (Syam 2010, 170). Materi adalah hal utama bagi Marx, sebab manusia itu dapat berpikir karena manusia itu hidup, dan hidup adalah masalah perut. Penjelasan konsep materialisme dialektis Marx ini pada akhirnya membawa pengaruh pada bangunan sistem pengetahuan yang dibentuk pada prinsip tersebut. Sebelumnya Hegel menyatakan bahwa ide absolut Tuhan lah yang berkembang dalam sejarah dan mengungkapkan dirinya dalam alam dan manusia, ketika ide ini berkembang dalam dan melalui dunia ruang dan waktu. Feurbach yakni salah satu tokoh filsuf yang mempengaruhi pemikiran marx mengatakan, bahwa yang absolut saeperti yang dikatakan Hegel bukanlah Tuhan, malainkan alam. Marx mengambil tesis Feurbach ini untuk merasionalisasikan kritiknya terhadap agama dan melakukan transisi dari idealisme Hegel menuju materialisme. Dengan menyatakan bahwa, yang absolut sebenarnya tidak lebih dari sekedar refleksi materi, Marx menggunakan dialektika sebagai kekuatan yang menggerakkan dalam evolusi sejarah (Schmandt 2002, 515).
Dapat dikatakan pula, materialisme sejarah atau materialisme dialektik yang dimaksud oleh Marx ini berarti cara produksi kebutuhan hidup pada akhirnya menentukan ide-ide dan institusi-institusi sosial pada masa itu. Penegasan dialektika ini menurut Marx dalam Syam (2010), “bukanlah kesadaran yang menentukan keberadaannya, melainkan keberadaan sosial lah yang menentukan keberadaannya”. Konsep Marx tentang sejarah bermula dari prinsip bahwa produksi adalah dasar dari setiap tatanan sosial dan bahwa pembagian masyarakat ke dalam kelas-kelas ditentukan oleh apa yang dihasilkan dan bagaimana ia dihasilkan. Jadi, penggilingan dengan tangan memberi kita gambaran masyrakat feodal, dan penggilingan dengan mesin uap menunjukkan masyarakat kapitalis industrial (Schmandt 2002, 517).
Pada dasarnya materialisme dialektik Karl Marx, mrupakan empat premis yang dikemukakan oleh Luer dalam Syam (2010), yakni (1) perubahan sejarah pertama kali atas adanya perubahan cara berproduksi ekonomi masyarakat, (2) masyarakat terdiri dari lapisan basis dan suprastruktur, (3) perubahan sejarah karena adanya antagonisme yakni kontradiksi kelas sosial (borjuis-proletar), (4) masyarakat kapitalis pada akhirnya selalu meniimbulkan konflik internal. Oleh karena itu, Marx mengatakanbahwa sejarah seluruh masyarakat yang ada tidak lain adalah sejarag perjuangan kelas, yakni manifestasi akan dialektik Marx “keadaan sosial lah yang menentukan keberadaan manusia”.
Apa yang dimaksud oleh Marx disini pada intinya adalah, keberadaan latar belakang politik semasa kehisupan Marx yang pada waktu itu kaum borjuis mendominasi kaum proletar, mereka menggunakan segala cara (negara, agama, politik, dll) sebagai alat kaum borjuis untuk mengeksploitasi tenaga kaum proletar secara radikal, yang mana kemudian berkaitan dengan alienasi antar kelas sosial. Tidak hanya itu, dialektika Marx ini digunakan olehnya sebagai solusi bagi kaum proletar untuk mewujudkan masyarakat tanpa kelas sebagai bentuk humanisme yang secara kodrati merupakan naturalisme. Dapat disimpulkan dari pemikiran Marx, yakni fenomena sejarah dengan kata lain ditentukan oleh faktor-faktor eknomi. Kemudian kebudayaan, filsafat, politik, dan bahkan agama, dalam setiap jaman, dibentuk oleh metode produksinya.
BAB III
KESIMPULAN
Hegel menolak konsep hukum alam dan mengajukan kehendak universal seperti yang terwujud dalam institusi sosial dan politik negara. Menurut Hegel, manusia mempunya karakter moral dalam tindakannya ketika ia menjalankan kebiasaan dan hukum masayrakat dimana ia tinggal, karena tatanan kehidupan sosial dan sistem negara didasarkan pada basis yang pada dasarnya bersifat ‘rasional’. Dengan kata lain, ‘dunia riil adalah seperti apa yang ada’. Apa pun yang eksis pastilah benar.
Marxisme menolak penuh terhadap adanya hukum alam. Ia menganggap tindakan moral sebagai tindakan yangs ejalan dengan tujuan orde sosial, yakni tujuan yang ditentukan oleh manusia sendiri. Karena bagu kaum Marxis, norma etika tidak membimbing dan membentuk masyrakat; sebaliknya, tindakan bersifat moral jika sesuai dengan masyarakat manusia. Etika tidak membentuk dunia, tetapi dunia membentuk etikanya sendiri. Kebenaran dan moralitas mempunyai makna hanya jika keduanya berguna bagi pembangunan masyarakt sosialis. Oleh karena itu, etika komunis menjadi etika partai yang mempunyai tugas membangun sosialisme
Tidak ada komentar:
Posting Komentar